Ad Meliora



~ 29 Desember 2025~

Aku melungguh di pinggir pintu masuk stasiun, menikmati pemandangan kendaraan yang lalu lalang di jalan Tugu Pancasila. Juga mengamati kerumunan orang memenuhi trotoar sedang bersenda gurau, beriang bersama atau sekedar menyesapi secangkir kopi di kursi taman bersama sunyi. Suasana siang begitu terik, tapi tak menyengat seperti hari-hari sebelumnya. Barangkali karena awan-awan di langit berkutat lama menghalau mentari untuk jangan
unjuk gigi. Alhasil kadang ia benderang, kadangpula meredup. Selain itu semilir angin dari wilayah selatan yang bermandikan mendung petang sesekali menerpa kencang. Udara pun syukurnya sesekali terasa sejuk mengobati kulit yang berpeluh panas.

Siang itu, stasiun sesak ramai. Tak seperti hari-hari biasanya. Heran tentu tidak, sebab sekarang ini memang libur panjang akhir tahun. Pasti banyak orang ingin menghabiskan liburan mereka dengan menjelajah seantero Jawa. Atau sekedar menjajaki tanah saudara di derah jauh sana.

Di antara hiruk pikuk stasiun, aku membaca para manusia yang tak kukenali. Macam-macam raut pengunjung di sana selalu membuatku penasaran. Kiranya hari-hari apa yang telah mereka lalui sehingga corak-corak ekspresi bermacam rupa, ada yang tampak bahagia, sedih atau lempeng begitu hambar. Mataku mengeja seksama tiap gerak-gerik di sana.

Membaca suasana hati seseorang sebetulnya perkara mudah. Meski mereka menyembunyikannya di balik topeng wajah, namun gestur alami tak akan mampu didustakan. Dahulu aku pernah membaca jurnal berjudul “Identifikasi Emosi Melalui Pendeteksian Karakteristik Ekspresi Wajah (Face Expression) Dalam Rangka Mengentaskan Masalah Siswa Melalui Konseling Individual “, jurnal ini ditulis oleh Purnamaningsih. Meski fokus utamanya pada siswa, namun bukan berarti tak bisa diterapkan di muka umum. Misalnya saja, emosi kesedihan bisa dibaca lewat ekspresi yang kentara, mata sayu, berair, alis menyambung dan bibir yang tertarik secara horizontal, bibir bagian bawah tertarik ke atas. Dalam jurnal tersebut dikatakan bahwa itu merupakan contoh ekspresi penuh, namun selain itu juga terdapat ekspresi dimana tidak ada isyarat kesedihan pada mulut dan pipi. Ini dinamakan ekspresi parsial. Sinyal itu hanya ada pada salah satu bagian wajah, yang tidak sama dengan ekspresi penuh.

“Perhatian, kereta api Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya Pasar Turi – Gambir akan segera tiba di Stasiun Tegal pada pukul 15:00 WIB, masuk jalur 1"

Ah informasi dari pengeras suara ...

Spontan aku mengecek tiket di saku, memastikan kembali nama kereta yang akan kutumpangi.

“Blambangan Express, keberangkatan pukul 16:13!” beberapa kali benakku melafalkannya. Seperti orang khawatir bakal lupa ingatan.

Barangkali ketakutan itu bercermin pada pengalaman tempo lalu saat aku duduk di kursi yang salah. Petugas pengecek tiket yang memergokiku turut membantu mencarikan kursi yang benar. Kala itu rasanya sudah seperti jompo yang kehilangan arah karena dibututi oleh petugas kesana-kemari. 

Saking seringnya tiketku dicek, bentuknya sudah berkerut-kerut lusuh. Tak enak dipandang.

Tapi mana aku peduli ...

Kutunggu sabar kereta itu datang.

Tiket kuselipkan lagi di saku. Lalu mataku lanjut membaca masyarakat kota yang berbaur mesra. Diiringi merdunya instrumen Gambang Semarang yang selalu berhasil membuat bernostalgia. Entah kenapa melodi tradisonal itu mudah sekali menjatuhkanku pada kenangan-kenangan. Alhasil siang benderang yang seharusnya pongah, menjadi suram penuh haru. Tapi tentu semua itu tak kuungkapkan di muka, malu pastinya. Hanya batin saja yang meronta ingin kembali ke masa tanpa beban kedewasaan.

Setelah instrumen itu selesai. Pikiranku bergulir ke arah lain, memikirkan kepastian jadwal sidang Proposal Tesis yang sebelumnya sempat tertunda karena diriku yang sakit. Saat itu, aku sempat drop beberapa hari, baik secara batin maupun fisik. Habisnya selama hampir sepekan berbagai tugas kepegawaian menggempurku bertubi-tubi. Kondisinya diperparah pula dengan kebiasaanku yang jarang makan. Alhasil tubuhku melayangkan bendera putih dan terpaksa terbaring memulihkan energi cukup lama. Orang mungkin melihat aktivitasku sepi saja, namun nyatanya kepalaku selalu menyortirnya detail berhari-hari demi pekerjaan setuntas-tuntasnya. Aku benci tugas yang menggantung. Membuat pikiran dan hati menduga tanpa henti. Ah lelah bukan main yang seperti itu.

Saat itu. Perasaan kecewa sebetulnya sempat membayangiku tiap waktu. Sebab, belasan juta sudah kubayar demi membeli kesempatan memperpendek jarak menuju target akhir. Tapi mau bagaimana lagi. Aku sadar diri tak dapat memaksa takdir mengulang waktu. Yang kubisa hanya mengatur kembali rencana agar kesempatan kedua tak terbuang sia-sia. 

Awal Januari. Kucamkan tanggal sidang itu dalam benak agar dipersiapkan matang.

Yakinku, semua akan berjalan lancar berkat do’a kedua orang tuaku semalam. Aku menelpon mereka agak larut untuk mengabarkan terkait pengunduran jadwal itu. Memang tak menyelesaikan masalah, namun melimpahkan curhatan kepada mereka sepertinya berhasil membuat hati lega. Meski sempat debat-debat kecil terjadi tapi hal-hal semacam itu tak menyurutkan kasih sayang apapun di antara kami.

Aku terkekeh lirih jika membayangkan perdebatan itu.

Intinya, orang tuaku bilang umurku sudah 25. Tetapi aku balik menegaskan bahwa umurku masih 25.

Saat ini aku hanya ingin hidup dengan caraku sendiri. Hidup tanpa menerima beban pikiran dan emosional. Hidup bebas laksana komet-komet yang mangarungi angkasa. Tatkala hal-hal reseh datang tanpa pamrih, aku bersikukuh tak meladeninya. Apapun itu aku mana peduli. Dalam persepsiku kebahagiaan itu ialah sebuah pilihan. Kerja seabreg selalu kuusahakan tak mengundang gundah dan kesuh. Jika pikiranku luruh ke dalam masalah. Maka langkah kakiku bakal pergi menjauh sejenak, mencari alat kontemplasi. Merambahi semesta, bercerita bersama alam, dan meluapkan gundah gulana pada langit biru. Barulah ku kembali bekerja jika urusan pergulatan diri telah usai.

Tapi kebahagiaan mandiri ini rasanya bisa salah langkah. Seolah asyikku berkelana di angkasa luas, tanpa memandang batin-batin di bumi bisa membuatku jadi solitude esktrem.

“Para penumpang, sesaat lagi Kereta Api Blambangan Express relasi Gambir tujuan akhir Ketapang akan segera tiba di jalur 3 Stasiun Tegal”

Ah keretanya akan segera tiba.

Mataku reflek melirik ke arah papan informasi digital di atas pintu ticket gate. Di sana tertera pukul 16:00 WIB. Artinya 13 menit lagi waktu keberangkatan. Sudah jelas pun, herannya aku masih mengecek boarding pass. Melongoki nama kereta, waktu keberangkatan dan nomor tempat duduk. Kesal sekali pada diriku yang penuh ragu ini.

Petugas Boarding tampak berkeliling sembari berkoar, mengingatkan para penumpang bahwa kereta api jurusan Ketapang sebentar lagi tiba.

Aku pun bangkit, memeriksa barang di sekujur pakaian dan tas, guna memastikan tak ada yang tertinggal. Lalu menuju pintu pengecekan tiket. Melakukan scene boarding pass, bergegas ke peron, dan menanti sang kereta. Di atas peron, di depan jalur 3 kuperhatikan ujung rel sebelah barat. Penasaran dengan wujud Blambangan Express yang baru kali pertama akan kutumpangi.

Tak berselang lama kereta pun tiba. Melajur pelan di depan para penumpang. Badan raksasanya perlahan berhenti dengan suara rem yang menekan mulus. Aku langsung menemui petugas peron dan memastikan lokasi gerbong tempatku melungguh.

“ Ekonomi 1 di ujung sana ya Mas “ tunjuk petugas perempuan itu ke arah timur. Ke arah kepala kereta yang sudah berlalu jauh dari tempat tunggu kami.

“ Oh oke makasih Mbak “ aku bergegas masuk gerbong.

“ Ekonomi 1 kursi 17 A ... Ekonomi 1 kursi 17 A ... “benakku terus berdecap, mengingat-ingat lokasi tempat duduk.

Di dalam gerbong, dengan tenang dan santai kuperhatikan nomor-nomor kursi.

Aaah di bawah jendela. Tepat sekali! Rasaku bangga saat tahu duduk di sisi jendela. Tempat terfavorit.

“ Ah 17 A “

Senangnya bisa mengamati pemandangan selama perjalanan.

Tak lama kemudian ...

Suara mesin kereta kembali bergumam. Perjalanan pun dimulai.

Sayangnya, langit mendadak mendung gelap sehingga pemandangan hijau tampak suram tak cukup membuatku melek. Selain itu kebiasaanku pun muncul, tiap duduk di transpotasi mana pun, kantukku selalu mendekap. Akhirnya perjalanan ke Semarang tawang sekitar dua jam kubawa dalam pulas.

***

Dengan mata yang terpejam. Tubuhku masih sanggup merasakan hawa keberadaan sekitar. Seseorang baru saja datang dan duduk di sampingku. Aroma floral dan lembut menyapa hidungku tiba-tiba. Aromanya tidak menyengat, tapi mudah dikenali di kondisi yang tak menimbun banyak wewangian. Mudah saja menebak kalau teman dudukku adalah seorang wanita. Sebab aromanya khas sekali. Entah sekarang pemberhentian ke berapa. Dan stasiun mana saja yang sudah disinggahi. Aku sungguh tak peduli ia naik dari mana. Aku tak mau membuka mata demi hal asing. Namun satu pertanyaan muncul diucapkan oleh suara nan nyaring, berasal dari pita suara yang tipis dan pendek. Pertanyaan itu ditujukan padaku, suaranya dekat sekali. Berdengung di telingaku yang disusupi headset. Aku pun membuka mata guna memastikan bahwa memang aku yang diajak bicara.

“ Lik? Betul kan? “ tanyanya menyiratkan senyum tipis.

Sedangkan aku masih melongo. Wajahnya yang bulat tirus memang rasanya pernah kutemui. Tapi di manakah gerangan aku lupa.

“ oh nggih Mbak “ jawabku balas tersenyum sembari membuka kembali rekaman-rekaman pertemuan dalam pikiran.

“ Sekedar jalan-jalan atau main ke rumah saudara? “ tanyanya akrab sembari meletakkan totebag krem di pangkuannya.

            “ hehe jalan-jalan Mbak “ balasku lagi dengan pikiran masih sibuk menelaah memori.

            “ Wih, jalan-jalan aja nih “ katanya sok akrab.

            “ mumpung libur panjang mbak  hehe “

Setelah itu suasana sunyi senyap. Ia tak mengajukan pertanyaan, dan aku pun memandangi langit mendung di luar dengan pikiran masih mereka-reka. “kiranya siapakah dia”. Jengkelnya kalau dilanda lupa. Tetapi memang begitulah cara sistem memoriku bekerja. Ia hanya menyimpan hal-hal yang dianggap penting. Sesuatu yang bermakna. Sedangkan ‘nama’ dan ‘wajah’ dari orang yang bukan golongan “inner”ku, biasanya tak tersimpan dalam memori jangka panjang. Mereka hanya dianggap sebagai angin lalu. Sehingga aku pun lupa.

Hendak kutanya di mana kami pernah bertemu tapi khawatir membuatnya kecewa. Seolah merasa dilupakan dan pertemuan awal itu tak kuhargai. Meski selain itu tuk memulai obrolan nyatanya aku memang malas saja. Ngobrol itu bikin capek.

“ Kabar Mbak Nur gimana Mas? “ mulainya lagi.

Namun justru aku terkesiap saat mengetahui kalau dirinya kenal dengan kakak kandungku. Kakakku adalah wanita yang tak pernah keluyuran kemana pun. Kalaupun punya teman, mesti temannya itulah yang akan datang menyambangi ke rumah. Dan pertemuan mereka hanya sekedar mengobrol saja, tak ada niatan traveling keluar atau berwisata lokal. Bisa dibilang kakakku adalah introvert tulen. Agak serupa denganku.

Lalu, dari semua teman kakakku, jangankan akrab, bertemu denganku saja mana pernah. Maka kemungkinan paling logis adalah bahwa wanita itu pernah bertemu kami berdua secara langsung di rumah. “ tapi kapan? Dan siapa? “. Aku tiada henti meneropong masa lalu. Membaca buku tamu rumah kami dalam ingatan.

“ini anak mbarep saya, dia sekarang di Udinus, kuliah di fakultas kedokteran ... “

Aku ingat sekarang. Satu-satunya wanita asing yang pernah datang ke rumah kami dan bersua langsung denganku adalah anak-anak keluarga besar dari ibuku. Hari itu menjadi satu-satunya momen pertemuan keluarga besar kami berdua. Pada momen hari raya. Setelahnya, silaturahim akbar itu tak pernah terjadi lagi. Wajar saja, karena mereka memang berasal dari Pulau Jawa, sedangkan kediamanku berada di Sumatera. Pertemuan kami terhalang oleh jarak yang jauh nian. Jika memaksa tiap lebaran harus bertatap wajah, rasanya sayang harus menguras kantong demi satu keluarga.

Saat itu pamanku memperkenalkan satu persatu anaknya.

“ Namanya Emilia Artelia Bellinda ”

Begitulah sebutnya.

Aku ingat sekarang.

“ Alhamdulillah sehat Mbak, Mbak Bella sih kuliahnya lancar nggih? “ tanyaku ramah setelah berhasil menelaah data.

            “ Alhamdulillah lancar, Shakila gimana? Sudah mau keluar rumah? “

            “ Yah, masih sama, lebih suka mendekam di rumah “

Anak kakakku itu persis ibunya, plek ketiplek jadi introvert tulen. Dibanding anak tetangga yang gemar keluyuran, ia justrub lebih suka menghabiskan waktu berselancar di layar gadget.

            “ Padahal dulu pecicilan ya “

“ Ah iya sih, kalau ndak diajak main mana mau ia keluar rumah “

            Bella tiba-tiba bersin lirih. Untungnya ia menutup mulut dengan kedua tangannya sehingga mampu meredam suara bersin itu. Lalu ia pun menyeka hidungnya yang mancung.

            Di sela membereskan hidungnya, aku berpikir sejenak merangkai pertanyaan yang sesuai untuk Bella. Tapi dipikir-pikir sulit juga ya memantik obrolan dengan topik samar. Aku tak tahu menahu apa kegemarannya. Pada pertemuan pertama kami, mengobrol saja tak terbayangkan. Jadi mana mungkin kami paham satu sama lain.

            Aku pun mencoba membacanya lebih dalam. Pertama aku harus menentukan dulu, ia tipikal kepribadian yang seperti apa.

            “ Di Semarang tempat mana saja ya yang seru? Kalo menurut Mbak Bella yang mana ya kira-kira yang harus dikunjungi? Sam Poo Kong atau Museum Kota Lama? Eh kalau Sam Poo Kong ramai ga ya? Bentar-bentar, museum Kota Lama bukannya lebih sepi ya enak ya? “ pura-puraku berpikir.

            “ mending Sam Poo Kong, klentengnya bagus tuh. Kalau musim libur begini sih pasti rame-ramenya “

            “ eeeh ... Mbak sering sendirian kesana po? “

            “ Engga, dulu pernah kesana bareng temen-temen “

            “ Wew Mbak sering rame-rame traveling gitu ya? Maksudku keliling Jawa Tengah “

            “ hehe ya ga sering juga sih “

Jawabannya sumringah sekali. Khas seorang ekstrovert.

            “ Terus ada museum apa lagi ya? Oh kalau ga salah ada museum lukisan Semarang Contemporary Art Gallery “

            “ Itu isinya Cuma lukisan-lukisan tau “

Ah Sensing. Cara pemrosesan informasinya bersifat sensing. Aku tahu karena Museum lukisan Semarang Contemporary Art Gallery memang sebagian besar karyanya berupa lukisan abstrak. Sehingga perlu intuisi tuk membaca estetikanya. Sedangkan Sensing biasa melihat apa yang tampak saja.

“ Wew seru-seru ya wisatanya. Bentar-bentar, keknya nanti nyantai dulu deh. Cari kafe seru keknya ya. Mbak Bella mau ngopi dulu ga? Saya traktir dah. Mumpung ada diskon nih di aplikasi saya “

“ Kafe mana? “

“ Cari-cari dekat stasiun ada ga ya? Jangan yang receh dah “

“ Deh songong nih, lagi banyak duit atau gimana? Loko Kafe tuh kalau mau, ga jauh, tempatnya nyaman pula “

“ boleh dah “

Perceiving dan Feeling ya.

Jadi Bella itu ESFP ya. Kalau berbicara dengan ESFP maka harus memberikan perhatian penuh dan harus antusias. ESFP itu sangat peka terhadap energi lawan bicaranya. Jika aku menampakkan bosan dia pasti akan segera merasakannya. Bagaimana pun aku mesti menunjukkan minat tinggi terhadapnya ketika berinteraksi. Meski jujur, lelahnya bukan main tatkala harus berperan sebagai pemberi respons aktif. Ah malasnya diriku terpaksa berganti peran sementara.

ESFP sering membagikan cerita yang emosional atau personal. Maka aku cukup menjadi pendengar dan pemberi empati yang baik. Jika aku dituntut memulai berbicara panjang lebar maka aku cukup mencari topik tentang tren saat ini, hobi, atau rencana seru yang bisa segera dilakukan.

O iya, seingatku ESFP suka diberi pujian pada penampilannya. Aku pun mencoba praxis teori itu. Menguji kiranya valid atau tidak.

“ Totebag nya kok keren ya Mbak. Beli di toko online kah? “ tanyaku pura-pura antusias.

Benar saja, ia pun tampak bersemangat berbagi informasi padaku.

“ Eh iya nih, aku tuh emang cari-cari yang nine stars korea gitu “

Aku sungguh tak mengerti seleranya pada tren korea. Hingga totebag pun harus mengikuti idola panggungnya yang entah siapa. Tetapi aku enggan menggugat. Setiap orang berhak atas pilihannya masing-masing, selagi tak merenggut hak lainnya. Selain itu aku menyadari sesuatu, kala kami membicarakan nine stars apalah itu, kakinya bergelayutan riang macam anak kecil. Lucu sekali. Sepertinya membahas sang idolanya membuat ia bergembira raya.

“ Oya, main-main ke Jogja dong Lik “ katanya tanpa memandang wajahku. Matanya saat itu sibuk mengamati totebag yang tampaknya menyimpan seribu makna. Bacaku, mungkin dari Mas Teo, kekasihnya yang juga turut di bawa ke rumah kali lebaran lalu.

“ Juni Mbak, Juni tahun depan insyaallah “ balasku tersenyum tanpa memandangnya pula.

“ Lama amat? “

“ Lah kalau liburan ini mah gabisa Mbak. Hehe lagi bokek “

“ Minta duid kek “

“ Ke siapa? “

“ Ibu lah “

“ Gah “

“ Juni nanti ada janjian? “

“ Ya engga, saya Cuma ada waktu pas Juni memang “

“ Woke, Mbak tunggu di Tempel “

“ Siap, ajak Mas Teo dah, bilang Mbak nanti kita main ke Watu Turbo gitu “

“ boleh-boleh “

Setelah itu kami sibuk dengan HP masing-masing. Aku sibuk mencari tempat bermalam, sedangkan Bella sibuk menanggapi chat teman-temannya yang kesetanan ingin nongkrong.

***

Komentar